Selasa, 23 November 2010

Minim Sayatan dengan Laparoskopi

Berbeda dengan teknik konvensional, laparoskopi jauh lebih menguntungkan pasien karena sayatannya lebih sedikit dan penyembuhannya relatif cepat.

Teknologi dan teknik pembedahan pasien terus mengalami perkembangan. Semuanya tentu demi pemulihan kesehatan pasien.

Termasuk penggunaan kamera video untuk melakukan bedah atau lebih dikenal dengan teknik laparoskopi.

Bedah dengan menggunakan kamera video sudah banyak digunakan di berbagai rumah sakit di Tanah Air, termasuk Rumah Sakit Awal Bross Batam, yang terus melakukan pengembangan untuk lebih memberdayakan alat tersebut.

Menurut Assistant Business and Development Manager RS Awal Bross Batam, Ingrid Sitawidjaja, alat tersebut bisa dimanfaatkan untuk pembedahan berbagai penyakit, seperti operasi hernia, varicocele, dan kelenjar gondok.

“Perkembangan teknologi telah mengantarkan dunia kedokteran, khususnya bedah, kepada efektivitas dan efisiensi.

Teknik bedah minimal invasif, laparoskopi misalnya, menjadi alternatif dari bedah konvensional,” papar Ingrid.

Dengan teknik laparoskopi, proses pembedahan tidak memerlukan sayatan panjang seperti dalam teknik konvensional.

Sayatan dalam pembedahan laparoskopi dibuat seminimal mungkin karena proses penyembuhan di dalam tubuh menggunakan alat tertentu yang bisa dipantau secara langsung oleh kamera.

“Dengan demikian, banyak keuntungan yang diperoleh pasien, antara lain hospitalisasi yang singkat, nyeri minimal, biaya murah, dan mengurangi ileus,” ucap dia.

Awalnya, laparoskopi dilakukan untuk bedah digestif atau bedah bagian perut dan saluran pencernaan.

Belakangan, kasus yang sering ditangani justru bukan hanya saluran pencernaan, melainkan juga cholecystectomy atau pengangkatan kantong empedu dan appendectomy atau pengangkatan usus buntu yang meradang.

Bedah laparoskopi juga bisa diterapkan untuk kasus lengketnya usus, tumor usus, obesitas, hernia, dan kelenjar getah bening.

RS Awal Bross Batam juga sudah bisa menangani pembedahan pembesaran kelenjar gondok dengan alat tersebut.

Menurut Nina Irawati, dokter ahli RS Awal Bross yang menangani pembedahan kelenjar gondok dengan laparoskopi, pembesaran kelenjar gondok (gondokan) atau yang dalam bahasa medis dikenal sebagai struma merupakan kelainan yang sering ditemukan di Indonesia.

Biasanya, tambah Nina, gondok akan ditemui dalam bentuk benjolan di leher depan atau leher yang terlihat lebih besar.

Normalnya, kelenjar gondok tidak terlihat secara kasat mata

. Pembesaran kelenjar gondok bisa disebabkan berbagai hal, seperti kista, infeksi, koloid akibat kekurangan iodium, hormonal, dan tumor, jinak maupun ganas (kanker gondok).

Riwayat Medis Sebelum memulai operasi, lanjut Nina, pihaknya akan menanyakan riwayat medis pasien, misalnya sejak kapan benjolan tersebut terjadi, apakah terasa nyeri atau pasien merasa demam/ flu sebelumnya.

Juga ditanyakan ada tidaknya tanda-tanda toksik, seperti berdebar-debar, keringat banyak, cepat lelah, menstruasi terganggu, insomnia, dan rambut rontok.

Keluhan lain yang biasa ditanyakan adalah apakah terdapat gangguan terhadap suara, misalnya menjadi serak, sulit menelan, dan mudah sesak.

Ditanyakan pula adakah orang lain di sekitar pasien yang juga menderita penyakit serupa.

Dari hasil penelusuran tersebut, dokter berusaha menyimpulkan dugaan, apakah pasien kemungkinan menderita kelainan bersifat jinak atau ganas.

Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan fisik melalui perabaan. Dalam perabaan, benjolan dapat terasa kenyal atau keras.

Terkadang dapat ditemui pembesaran kelenjar getah bening leher atau luka di atas benjolan.

Pada pembesaran akibat infeksi biasanya terdapat gejala nyeri.

Status fungsi kelenjar gondok diperiksa dengan menganalisis kadar hormon gondok dalam darah (T3,T4,TSH).

Pasien yang mengalami peningkatan kadar hormon umumnya harus diobati dengan medikamentosa terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan operasi.

Sementara biopsi jarum halus dapat dilakukan jika fasilitasnya tersedia.

Meski demikian, keefektifannya berhubungan dengan keterampilan operatornya, dan letak kelejar tiroid sendiri sulit dijangkau sehingga terkadang diperlukan biopsi berulang kali untuk mendapatkan hasil maksimal.

Meski begitu, seluruh hasil yang diperoleh masih bersifat dugaan. Penanganan selanjutnya disesuaikan dengan diagnosis yang ditegakkan.

Pada umumnya, jika tidak ada kontraindikasi, sebagian besar pembesaran kelenjar gondok akan dilakukan operasi sebagai terapinya.

Kecuali jika pembesaran tersebut diakibatkan kelebihan hormon tiroid (hipertiroid).

Hasil jaringan yang dioperasi akan diperiksa dengan mikroskop untuk menentukan secara pasti ganas atau tidaknya.

Jika ternyata terbukti secara patologi anatomi bersifat jinak, tentu tidak diperlukan operasi tambahan.

Pasien dapat pulang dan kembali beraktivitas seperti sediakala.

Perawatan Singkat

Seiring dengan kemajuan teknologi, teknik operasi kelenjar gondok juga mengalami perkembangan.

Hal itu berawal dari kemajuan teknologi di bidang operasi laparoskopi yang diaplikasikan ke berbagai bidang spesialisasi, misalnya untuk pengangkatan usus buntu, batu empedu, dan hernia.

Saat ini, teknik invasif yang minimal juga sudah banyak dilakukan di luar rongga perut, misalnya di ketiak, leher, dan rongga di belakang perut (retroperitoneal).

Keuntungan operasi yang minimal invasif secara umum adalah luka operasi lebih kecil, yang tentunya baik secara kosmetik, rasa nyeri yang jauh lebih ringan, dan masa perawatan yang lebih singkat.

Operasi endoskopi kelenjar gondok terbaru juga sudah diperkenalkan di beberapa negara, terutama Eropa dan Asia.

Prosedurnya dengan membuat sayatan kecil di sekitar ketiak dan areola payudara.

Sayatan umumnya berjumlah tiga buah, dengan ukuran maksimal 0,5-1 cm.

Melalui sayatan ini, akan dimasukkan semacam teropong yang disambungkan ke layar monitor televisi dan gas.

Alat endoskopi tersebut akan mengarah ke daerah leher, dan selanjutnya dilakukan operasi pengangkatan kelenjar gondok.

Keseluruhan proses operasi dapat direkam atau dicetak untuk keperluan dokumentasi medis.

Kelenjar gondok yang dapat dioperasi dengan teknik terbaru ini adalah yang ukuran benjolannya kurang dari 5 cm.

Pasien dengan pembesaran kelenjar gondok lebih dari itu tidak dapat dioperasi dengan teknik tersebut.

Sayatan kecil tersebut memberikan keuntungan bagi pasien karena tidak terdapat bekas sayatan di daerah leher.

Selain itu, waktu perawatan juga relatif singkat, yakni sekitar 1-2 hari setelah operasi.

Apabila bakat keloid yang dimiliki pasien amat kuat, mungkin dapat timbul pada bekas luka sayatan.

Namun karena sayatannya kecil, keloid yang timbul juga kecil dan letaknya tersembunyi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar